Budidaya Bambu; Ekonomi, Budaya, Wisata Hingga Melawan Iklim

Bambu merupakan salah satu jenis tanaman atau pepohonan yang tumbuh subur di Indonesia. Keberadaannya bahkan sering tidak diindahkan bahkan dianggap mengganggu. Namun, sebagian masyarakat Indonesia sudah menyadari akan potensi yang didapatkan dari bambu. Bambu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi, sosial, budaya hingga digunakan untuk melawan panasnya iklim yang akhir-akhir ini dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Festival Bambu di Banyuwangi, Soroti Potensi Lokal

Pemanfaatan bambu untuk menjadi berbagai kerajinan tangan dan berbagai hasil olahan lainnya memang sudah akrab dan dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. Sebagai contoh, bulan Mei 2017 lalu, Banyuwangi menyelenggarakan festival bambu untuk menyoroti potensi lokal. Festival bambu ini dilakukan selama tiga hari yang bertujuan untuk meningkatkan potensi lokal. Festival tersebut digelar di Desa Gintangan, Kabupaten Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Menurut Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas festival ini menampilkan berbagai produk dan daya tarik yang dibuat dari bambu. Selain karya seni dan kerajinan tangan, acara ini juga menampilkan pentas seni, seperti barong dan parade busana dari kain bambu. Kepala desa Gintangan Rusdianah mengatakan kepada Antara bahwa festival tersebut juga diikuti oleh 20 usaha kecil dan menengah bambu. “Selain mengagumi kerajinan tangan, pengunjung juga bisa langsung membeli barangnya,” katanya

Desa Gintangan sendiri sudah lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu di Banyuwangi. Terletak 20 kilometer dari selatan pusat kota, tempat ini telah memasok kerajinan bambu untuk permintaan nasional sejak tahun 1980an. Beberapa barang bahkan diekspor secara internasional ke negara-negara seperti Jepang, Brunei dan Thailand. Tentunya, di daerah lain potensi bambu juga terus dikembangkan dan dipasarkan.

Potensi Bambu Untuk Melawan Iklim

Seperti disinggung sebelumnya, bambu tidak hanya tentang potensi ekonomi dan budaya tetapi juga untuk kehidupan sosial. Budidaya bambu dapat membantu Indonesia mengurangi dampak perubahan iklim. Hal in diungkapkan oleh seorang ilmuwan togel singapore lingkungan hidup Indonesia pada acara sampingan konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bonn, Jerman.

Pada acara tersebut, Arief Rabik, pendiri Yayasan Bambu Lestari, mengatakan penanaman bambu adalah cara yang sangat efektif untuk merehabilitasi lahan terdegradasi dan menyerap serta menyimpan karbon dioksida. Sehingga secara tidak langsung dia mengatakan potensi bambu ini dapat membuat warga menuai keuntungan ekonomi dari penanaman tanaman.

Diskusi tersebut diadakan pada hari Selasa di Paviliun Indonesia yang ditetapkan oleh delegasi Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP23), yang berlangsung dari 6-19 November. Satu kelompok bambu bisa menyimpan hingga 5.000 liter air, menunjukkan perannya dalam pengelolaan air tanah. Sementara itu, satu hektare bambu bisa menyerap hingga 50 ton gas rumah kaca per tahun.

Bambu juga bisa dibudidayakan dalam berbagai jenis tanah, sehingga mudah dikelola oleh penduduk setempat. “Bambu adalah pemenang ketika harus meremajakan lahan terdegradasi,” kata Arief seperti dikutip oleh sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Arief, bagaimanapun, mengatakan bambu masih memiliki nilai ekonomi rendah dibandingkan tanaman lainnya. Padahal, katanya, bambu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan produk mulai dari serat tekstil hingga panel konstruksi.

Arief mengatakan, kelompoknya, dengan bantuan kementerian tersebut, sedang mengerjakan sebuah proyek untuk mengolah bambu di 1.000 desa di seluruh Indonesia. Diharapkan setiap desa bisa menumbuhkan setidaknya 70.000 bibit bambu. Desi Ekawati, seorang peneliti dengan badan pengembangan penelitian dan inovasi kementerian, mengatakan bahwa timnya mengembangkan metode penanaman bambu baru untuk membantu memacu proyek bambu bambu milik Arief.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *