Film The Lost City Of Z – Petualangan Seru Di Pedalaman Amazon

Akhir pekan kali ini, akan ada pilihan film seru dengan genre action, adventure dan biography, The Lost City of Z. Karya sutradara James Gray ini merupakan adaptasi dari novel karya David Grann yang memiliki judul sama. The Lost City of Z menceritakan tentang Percy Fawcett yang diperankan Charlie Hunnam. Fawcet merupakan seorang penjelajah asal Inggris. Dia melakukan ekspedisi ke hutan Amazon. Tujuannya adalah untuk membuktikan adanya peradaban maju di zaman kuno dari wilayah itu.

Sinopsis The Lost City of Z

Tak sedikit orang yang meremehkan keinginan Fawcett. Tapi berkat dukungan dari sang istri (Sienna Miller), anak laki-lakinya (Tom Holland) dan orang kepercayaannya (Robert Pattinson), Fawcett ingin membuktikan keyakinannya tersebut. Ditambah dengan ambisi yang menggebu-gebu yang dimilikinya. Dengan durasi film selama 140 menit, penonton akan dibawa melalui petualangan seru.

Film ini berkisah tentang Percy Fawcett yang harus bekerja lebih giat, agar dapat diterima oleh kalangan terhormat di London. Karena memiliki silsilah keluarga judi poker yang tidak baik, ayahnya dikenal sebagai orang yang suka berjudi dan alkoholik. Dan kesempatan itu datang, Fawcett diberi tugas untuk memetakan perbatasan negara Bolivia dan Brasil. Petualangan itu di lakukan dengan Kopral Henry Costin (Robert Pattinson), yang mengenal pedalaman Amazon.

Fawcett dibuat kaget dan semakin bersemangat, setelah ia menemukan peninggalan tembikar di sana. Bahkan ia berteori bahwa jauh di rimba Amazon, terdapat kota dengan peradaban maju dan piramida-piramida berlapis emas. Hal tersebut diperkuat, saat istrinya Nina (Sienna Miller) menemukan jurnal perjalanan penjelajah ekspedisi. Kejadian tersebut membuat keinginan Fawcett semakin kuat. Tapi, ternyata obsesi yang besar dan berlarut-larut terhadap kota legenda yang dinamainya City of Z itu, membuatnya jauh dari istri dan anaknya, terutama Jack (Tom Holland), anak sulungnya.

The Lost City of Z Salah Satu Film Terbaik James Gray

Film ini dinilai sukses dan wajib ditonton, karena menyajikan tata teknis, skenario, plot yang sangat apik. Tak hanya itu saja, bobot drama yang dinilai pas, juga akting pemain yang kuat menjadikannya semakin mengesankan. Gray yang betugas sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, membuat alur cerita mengalir. Gray tau kemana ia akan membawa filmya, skenario yang ditulisnya juga dapat menggambarkan kisah yang seru. Filmnya mulus dan tidak banyak adegan yang sia-sia.

Gray dapat membawa kisah Fawcett yang mulanya hanya seorang perwira naïf, lalu tertarik oleh misteri City of Z, yang membuatnya sangat terobsesi untuk menemukan kota itu. Awalnya diolok-olok oleh para ilmuwan. Tapi,semakin ke belakang, alur ceritanya semakin mendebarkan. Terjadi pula konflik. Sampai akhir cerita, Gray mampu menutupnya dengan kesimpulan yang brilian dan membuat film ini berakhir dengan terhormat dan dramatis.

Teknis film The Lost City of Z memang tak perlu diragukan lagi. Ditambah lagi dengan kerja Darius Khondji dalam membidik gambar, hingga tata artistiknya dapat memotret peradaban kehidupan suku pedalaman Amazon dengan sangat arealistis.

Dibalik kerennya film The Lost City of Z , ternyata ada kisah yang menyedihkan. Cerita itu diangkat dari kisah nyata dari seorang mantan tentara Percy Fawcett. Seperti yang diketahui, Dia berangakat pada tanggal 20 April 1925 bersama dengan anaknya (Jack Fawcett) dan sahabatnya sejak lama (Raleigh Rimell), beserta tambahan tim. Dan hingga kini Fawcett dan rombongan tak pernah berhasil diketemukan.  Sudah lebih dari 100 orang tewas di berbagai ekspedisi untuk mendapatkan informasi mengenai nasib Fawcett di pedalaman Amazon. Pada tahun 1951, ditemukan satu set tulang, yang dianggap Fawcett, tapi setelah dilakukan tes DNA, tulang tersebut bukan milik Fawcett.

Kenapa Manusia Akan Kalah Perang Tanpa Senjata di Planet Apes

Bulan depan, kera dan manusia akan mengalami bentrokan terbesar mereka dalam War For The Planet Of The Apes. Dengan judul filmnya, secara logis kita bisa menebak bagaimana konflik ini akan berakhir, tapi katakanlah kita tidak memiliki informasi sebelumnya tentang Planet of the Apes. Kita tentu sudah tahu jika film tersebut akan menggambarkan peperangan yang sangat epik dan apik seperti yang sudah dibayangkan semua orang.

Fakta Kera Lebih Kuat dari Manusia

Jika manusia dan kera sedang bertempur di lingkungan pasca-apokaliptik, dan tidak ada pihak yang memiliki persenjataan canggih, siapa yang akan menang? Nah, sepertinya Anda memang benar, karena menurut sebuah studi ilmiah, manusia akan kalah dengan kera karena kekuatan superior mereka. Ini berdasarkan penelitian, bukan asal-asalan.

Akan tetapi, manusia memiliki artileri di pihaknya dalam perang teoretis semacam itu. Jika manusia dan kera bertempur dengan tangan kosong, yang pertama tidak tahan menghadapi yang kedua. Artinya, manusia akan kalah. Itu ditentukan pada tahun 1920 bahwa dua kera kira-kira memiliki tingkat kekuatan yang hampir sama dengan tujuh pemain football perguruan tinggi, dan kera mampu menarik empat kali lipat berat badan manusia normal. Tapi ada lebih banyak kekuatan kera daripada hanya tentang peningkatan massa otot mereka saja.

Menurut studi “The Strength of Great Apes and the Speed of Humans” dari profesor antropologi dan biologi, Alan Walker (melalui Inverse), otak manusia memiliki lebih banyak materi abu-abu, yang berarti kita memiliki lebih banyak neuron motor togel online sehingga tidak digunakan dengan banyak otot melalui sistem saraf. Kera, di sisi lain, menggunakan lebih banyak otot karena mereka memiliki lebih sedikit neuron motor.

Tentu saja, semua fakta ilmiah di atas berlaku untuk kera biasa yang berjalan berkeliling di dunia nyata. Kita juga harus ingat bahwa di film reboot Planet of the Apes, Caesar lahir dengan obat AZ-112 di sistemnya, dan kemudian ia memaparkan kera lain ke AZ-113.

Senjata Berikan Keuntungan Untuk Manusia

Sekarang di atas massa otot mereka yang disempurnakan, kera juga memiliki tingkat kecerdasan yang sama dengan manusia, jika tidak lebih tinggi. Jadi ya, semua terlihat bagus dan logis ketika militer manusia menggunakan senjata di dalam film War For The Planet Of The Apes. Senjata mereka memberi mereka keuntungan untuk menyerang dari kejauhan, tapi jika mereka kehilangan senjatanya atau kehabisan amunisi, mereka hanya memiliki pisau dan kekuatan alami untuk diandalkan.

Dalam perkelahian dengan kera, pisau atau kekuatan alami manusia itu tidak akan banyak berguna. Ditambah lagi, seperti yang terlihat di trailer, kera telah berhasil menguasai beberapa senjata manusia, sehingga mereka bisa dengan mudah mengalahkan lawan-lawan mereka dan meninggalkan kehancuran di belakang mereka.

Setelah kejadian Dawn of the Planet of the Apes, War For The Planet Of The Apes akan menggambarkan konflik terakhir antara manusia dan kera yang disempurnakan, dan pemenangnya secara resmi akan menjadi spesies dominan di Bumi. Pada tingkat yang lebih pribadi, Caesar (Andy Serkis) akan melawan karakter Woody Harrelson, sang Kolonel, yang menyadari bahwa agar umat manusia tetap berada di puncak, mereka tidak memiliki pilihan kecuali untuk memusnahkan kaum kera.

Inilah yang ditunjukkan dari adegan di beberapa review dimana Caesar melompat ke Kolonel untuk menyerangnya. Jadi jika kita melihat keduanya bertarung menggunakan kedua tangannya, tentu Caesar akan memenangkan pertarungan dan tentunya jika sang Kolonel tidak memiliki trik tertentu. Ok, lihat saja nanti War For The Planet Of The Apes akan hadir pada 14 Juli untuk rilis di Amerika.